2.03.2011

you don't know what you've got, untill it's gone

"Ketika tahu besok kaki saya akan patah. Apakah hari ini saya akan melompat sejauh mungkin atau akan menangisinya?"

Terima kasih kepada salah satu teman baik saya, yang menghibur saya dengan pernyataan tersebut. Betapa birunya hari saya pada hari yang seharusnya dibanjiri warna merah ~Hari Raya Imlek. Saya (memang) tidak merayakannya, tapi saya merayakannya dengan kesedihan yang mendalam.
Melihat hanya dalam beberapa hari ini, hidup saya akan dimulai. Hidup yang jauh lebih baru lagi, dan tidak terbayangkan oleh saya akan jadi seperti apa nantinya. Bagaimana ini? Pertanyaan yang seringkali muncul. Apakah yang akan saya lakukan? Siapakah yang akan saya percaya? Kenapa saya begini bukan begitu? Dan pertanyaan 5W dan 1H terus bergulir seperti lahar dingin di Kota Jogja.
Pengamatan saya sejauh ini, saya hanya takut akan kehilangan kebebasan yang selama tiga tahun belakangan ini saya miliki. Saya bebas pergi kemana saja, melakukan apa saja, dengan siapa saja, jam berapa saja, bergaya seperti apa saja. BEBAS.
Kehidupan yang memang tidak pernah saya miliki selama tujuh belas tahun umur saya waktu itu, yang akhirnya membuat saya untuk keluar dari rumah ~kuliah, dan memulai sesuatu yang baru di kota kembang ini. (kota kembang? atau kota hujan ya? hm, apa sajalah sebutannya).
Saya takut akan kehilangan comfort zone yang selama ini saya miliki. Kehilangan sahabat2 yang selalu ada pada saat saya butuhkan. Kehilangan euphoria kuliah dengan jam yang padat. Kehilangan kehidupan hectic yang penuh dengan acara dan janji sana sini. Kehilangan seseorang terkasih ..... Saya tidak bisa berkata2 lagi.
Dalam lima hari kedepan, adalah lima hari terberat dalam hidup saya setelah kehidupan skripsi dan sidang 3bulan belakangan ini.
Terima kasih, Tuhan, atas ujian dan bantuan-Mu selama ini.
Ajarilah saya untuk terus berjuang hanya di dalam nama-Mu.
Amin.