11.21.2010

BERHENTI

Saya akan menjadi manusia yang sehat jasmani dan rohani.

Cerita barusan, yang menceritakan hilangnya saya selama (kurang lebih) dua puluh empat jam, masih berlanjut. Karena malam ini saya berair mata sejadi2nya. Takut kehilangan orang (bocah) yang satu ini.
Catatan saja, semalam saya berasap sejadi2nya, dan saya menikmati satu gelas (kecil) sebuah cairan yang berasa panas di leher, perut, dan menyebabkan pusing2 yang cukup lama. Haemm...
Hilangnya saya saja, sudah (selalu) membuatnya panik! Dan memang Ia panik, dan mencari ke seluruh dunia, Terima kasih Tuhan saya sudah ditemukannya. :)
Laporan pun harus saya buat - secara lisan, kepada kekasih saya tercinta. Saya hilang, Ia panik, dan mendiamkan saya! Saya meluncur ke sebuah tempat dimana Ia berada, dengan semangkuk spaghetti tuna pedas dan udang goreng, siap disantapnya! Sogokan pertama berhasil..
Berhasil membuatnya tersenyum dan ya memang masih melankolis sedikit karena kejadian di film kemarin. Haemm... Setidaknya suasana sudah sedikit membaik.
Namun, laporan mengenai cairan itu ada di akhir pertemuan saya dengannya. Alhasil, Ia diam seribu bahasa, dengan wajahnya yang mengencang dan tidak ingin melihat saya.
*PLAK! Saya sudah seperti tertampar, tapi tidak.
Ia hanya DIAM. Bahkan lebih sakit daripada saya di tampar bolak balik.
Caranya memang aneh, dan sangat membuat saya kewalahan. Saya tidak tahu mau berkomentar apalagi. Ia saja terdiam dan terus terdiam, sampai akhirnya saya ingin pulang, duduk di sebuah kendaraan, dan ia duduk di samping saya.
Kami hanya DIAM. Dengan nafasnya yang cepat, saya semakin bingung dan lebih panik.
Saya takut.
Saya takut.

Hampir terucap kata2 yang sangat saya hindari selama ini.
Saya takut, sayang.

Ia memang harus mendapatkan orang yang lebih baik dari saya.
Jauh lebih baik.
Karena saya hanya memberikannya beban dan halangan untuknya.
Maaf, Tuhan.

Apa yang harus saya perbuat?
Saya semakin panik, takut sekali.
Dasar perempuan, air mata saya pun pecah di pelupuk.
Sambil mengucapkan kata maaf, dan maaf, dan maaf.
Maaf, karena saya telah menjadi beban.
Maaf, karena saya selalu merepotkan.
Maaf, karena saya jadi anak manja.
Maaf, karena saya tiak sesuai seperti yang Ia inginkan.
Maaf, karena saya hanya menjadi perempuan egois.
Maaf, Maaf, Maaf.

Seharusnya, Ia mendapatkan yang lebih baik dari saya.
*DHUAR! Pecah lagi air mata itu.
Haemm...

Dan (lagi2) Ia panik!
Dengan rangkulannya itu, saya malah semakin menjadi2.
Diambilnya kunci, dan diantarkannya saya pulang.

Memaksa saya tersenyum, menunjukkan gigi dengan lebar, bermain dengan menggoyangkan mulut kesana kemari, tertawa - sama seperti apa yang saya lakukan untuk menghiburnya seperti biasa.
Dan memang itu berhasil untuk saya.
Terima kasih, Tuhan.

Dan terima kasih, Sayang.
Karena Ia masih selalu setia disamping saya, untuk memarahi saya, mencari saya, melindungi saya, merawat saya, merangkul saya, mencium saya, membawa saya, menertawakan saya, menangisi saya, memikirkan saya, dan selalu menyayangi saya.

Terima kasih, Tuhan.

Saya akan membawa diri saya menjadi saya yang dulu - lebih baik, lebih sehat.
Amin.

Terima Kasih, Tuhan

Hari ini, Luar Biasa!
Bercampur aduk diantara senang, sedih, dan segala rupa. Sejak semalam memang telepon seluler saya selalu aktif dengan sinyal yang ok (penuh!)Yang ternyata tak ada gunanya, karena telepon seluler saya, tidak dapat (sekali pun) di hubungi, menerima pesan, di telepon atau apapun itulah caranya untuk menghubungi saya.
Saya memang sedang gila kemarin. Acara yang selama ini menjadi sebuah titik balik bagi mahasiswa jurusan saya, telah terjadi kepada saya - sebagai ujung tombak tiga setengah tahun saya belajar. Ternyata, tidak semua orang melihatnya seperti itu.
Adalah sebuah hal yang salah, melihat diputarnya sebuah video zaman dulu di dua layar besar ruangan itu, karena membuat saya dan teman2 yang lain sedih, apalagi seseorang yang sangat berarti untuk saya, kekasih saya.
Ia telah berkeratbat dengan saya sejak pertama kali kami duduk di bangku kuliah, dulu Ia menjadi rival saya, hahaha. Yang ternyata Ia menginginkan jabatan yang dulu pernah saya duduki. Yang ternyata (lagi), waktu itu Ia sedang sakit, sehingga tidak bisa mengikuti jalannya pemilihan. (Maaf, sayang)
Jadilah saya yang duduk di jabatan itu saat itu. Dan kmarin diputarlah sebuah film singkat mengenai perjalanan hidup selama tiga setengah tahun di kota ini. Acara tersebut menjadi salah satunya, yang ternyata Ia tidak ada dalam salah satu video yang menunjukkan saya dengan dua orang wakil lainnya - well, Ia terpilih menjadi wakil saya pada saat itu, Wakil III (tercinta), walaupun saya sempat (sangat) tidak suka dengan Ia. hahahaha. Dan sekarang? Ia adalah kekasih saya. :)
Ke-melankolis-annya kemarin beralasan, ternyata Ia sadar dan menyatakan bahwa ia bukanlah bagian dari jurusan saya (padahal jelas, Ia adalah bagiannya).
Melihat tampilan foto demi foto, memang tidak ada wajahnya.
Haemmm.. Bagaimana ini, Tuhan?
Saya yang duduk berselang satu dengannya, hanya berpikir bagaimana menyelesaikan hari ini dengan baik, titik. Itu saja. Bagaimana ini, Tuhan?
Tidak terpikir oleh saya, Ia terluka dan memang ingin lari saja dari ruangan itu. Jujur, sayang, saya juga ingin segera lari saja, itu saja. Tapi apa mau dikata? Tidak bisa keluar begitu saja dari ruangan besar sore itu.
Dan, akhirnya, selesai acara pun, Ia memang tidak tersenyum manis seperti biasanya dan seperti yang lainnya. Bocah (kekasih) saya yang satu ini, memang selalu terdiam dan mencari ketenangan dengan dirinya sendiri. Yang akhirnya dapat Ia temukan pada salah satu sahabatnya (laki-laki juga, untung!). Pembicaraan itupun hanya terbatas pada mereka berdua, dimana saya harus pulang dan tidak bersua lagi dengannya.
Ketika malam tiba, dimulailah acara di sebuah tempat di kawasan kota ini, diramaikan oleh teman2 terdekat saya (teman2 kuliah) yang berasal dari berbagai latar belakang. Kegalauan hati saya memenangkan malam itu, dibandingkan kelelahan tubuh yang sudah tidak dapat dikendalikan. Dan segeralah saya menyusul ke tempat itu.
Dengan diramaikan teman2 yang (sama) lelahnya dan (sama) ingin bersenang2nya, saya mengikuti arus yang ada, dengan asap dmana2, dan minuman dari berasa sampai tidak berasa. Menikmati Hidup, judulnya malam ini.
Saya melirik ke dalam tas yang berisikan telepon seluler saya, tidak terdapat satu (pun) pesan, panggilan tak terjawab - yah.. Hingga (tengah) malam tiba, tak ada apapun. Walapun saya sudah izin pada Ia, tapi Ia tak berkomentar (ternyata pesannya tidak masuk). Tuhan!
Ada apa dengan telepon seluler saya?
Hingga pagi, siang, menjemput saya, saya tidak menerima satu pesan ataupun panggilan tak terjawab, yah.. Saya melanjutkan saja hibernasi saya di hari minggu (skali lagi tidak ke gereja). Haemmm...
Sore menjelang, pintu saya diketuk dengan kerasnya! Saya pun kaget, dan segera melihat siapakah di luar sana. Ternyata salah satu teman satu atap saya, yang sedang menyampaikan pesan dari kekasih saya - yang notabene sejak semalam telah mencari saya kemana2. Tuhan.
Akhirnya, teman saya pun menemukan saya (yang hilang ini).
Ibu saya dan teman2 lain juga mencari saya, padahal, saya hanya tidur seharian dengan malasnya di kamar saya sendiri.
Terima kasih kepada teman2 dan Ibu saya, saya telah ditemukan. :)

11.09.2010

9 (fat big) Months!

Thank you, my Dearest-Man.
You're my Best-Man, ever. We've been living together for quite a while, thank you for you time, energy, money, love, and passion for me. Handling me with my complicated life, it's such a huge honor for me. A pleasure, actually.
It has to end, Dearest-Man.
Maybe sooner or later? But, it would be better, if.. If what?
I (really) do not know about it, Dearest-Man.
Our time's running out.
Our time's running out.
Our time's running out.

I'm not in the picture, in how you capture your future.
You're not in the picture, in how I capture my future.

We're living the presents (gift) now.
Thank you, Dearest-God.

Should we be separated?
Should I go?
Should you go?

What should we do?
Just living these presents (gift) life?
Until when?

Whose going to stop it, anyway?
Is it us?
Or maybe the universe?

Am I exaggerating here?

Am I always the one that do the talking?
This talking?

Hmm..
Why you could not be asleep tonight, Dearest-Man?
Were you thinking about this?
(Well, I - really, do not think so)

You have too much in your mind.
I do not want, to be a burden, a barrier, even a dot in your mind.

I (do) love you (very much), indeed.
I miss you (already).

Kisses and Hugs for my Dearest-Man.
*see you in the next life, maybe, we can be together. Give us a chance, Dearest-God.
If it is the thing that he wanted to.

God is ONE, though we're not ONE. Then, let's resemble together, and become ONE.

The (real) World

I'm twenty (20) years old now. Is it the (really) time to grow up? (hell yeah, dear). But the thing is, I really do not know what to do. Really, really.
Less than three (3) months I will be away to United States (Thank you, Dearest God), then? What should I do? Right now, I really should finish my thesis, for the sake of my self and I. Therefore, I can finish my thesis on-time, by January 2011, then go on to United States, maybe extend some quite time there - figuring out what am I going to do with my (so called) LIFE. Then, I'll be handling with the (hectic) hometown - Jakarta. Maybe living and learning about new things over and over again, involving myself into some work with my friends. You know? Serious work! To live my life.
Then, Graduation Day! I'll be having with both of my PARENTS and my little SISTER, then, afterwards, I'll be leaving for Switzerland - Master Degree on Development Studies, The Graduate Institute, Geneva. Followed by taking my parents and my little sister on vacation in Europe. Then? Working in international organization or Doctoral Degree, maybe. :)
Making my parents and my little sister proud of me.
Then, I shall die in peace.

Thank you, God.

Peri Cintaku (Marcell)

Di dalam hati ini hanya satu nama
Yang ada di tulus hati ku ingini
Kesetiaan yang indah takkan tertandingi
Hanyalah dirimu satu peri cintaku
Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai

Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai

Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Bukankah cinta anugerah berikan aku kesempatan
Tuk menjaganya sepenuh jiwa oooh
(aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda)
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
(aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda)
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi