Hidup di kota kembang ini selama hampir setahun, membuat saya selalu tersenyum di pagi hari. Walaupun sering ditemani hujan dan cuaca tidak menentu, kota ini membuat saya nyaman dan aman dalam setiap harinya. Tidak hanya berusaha bersahabat dengan alam, tapi juga dengan orang-orang di sekitar saya. Di kost ini, misalnya, saya hidup dengan keluarga kecil yang memang lahir dan tumbuh di Kota Bandung ini, kami yang tidak berasal dari Bandung merasa begitu terjaga di dalamnya. Kehidupan Bandung yang begitu hangat, membuat kami tidak ingin segera beranjak dari sini. Di setiap langkah kami keluar dari kost ini, menuntut ilmu atau hanya sekedar jalan-jalan, kami merasa aman. Orang-orang di sekeliling kami, tentu tidak semua kami kenal, tapi mereka begitu ramah dan menyambut kami dengan senang hati. Walaupun hanya sekedar anggukan kepala atau senyum saja, itu sudah cukup, karena tulus dari hati.
Kebanyakan orang berkata, ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Dan apakah pernyataan tersebut benar adanya? Memang begitu. Hidup di Kota Jakarta, memang sangat keras. Tidak semua orang akan menyapa satu sama lain, tersenyum saja akan keluar senyuman pahit yang asal saja keluar. Mungkin globalisasi membuatnya begitu, semua orang berpikir tentang dirinya sendiri. Padahal, kehidupan layaknya orang Indonesialah yang didamba-dambakan, terkenal dengan keramah-tamahannya, selain terorisme, Indonesia telah menyentuh hati banyak turis mancanegara. Ataukah hal itu, hanya kemunafikan belaka, untuk meningkatkan pariwisata Indonesia? Besar harapan saya, keramah-tamahan itu tidak hanya ada di tempat-tempat destinasi para turis saja. Tapi juga dalam setiap kehidupan orang Indonesia.
Ketika berjalan sepanjang kota ini, saya menjumpai beberapa orang yang tidak saya kenal. Dan dengan sapaan khas kota ini, saya akan berkata, ‘punten’, dengan ramah pun mereka akan membalas, ‘mangga’, dibubuhi dengan bungkukan badan dan senyum yang damai rasanya. Memang tidak semua orang akan begitu, terpengaruh dengan budaya dari berbagai kota, apalagi kota-kota besar, menjadikan masyarakat disini mulai acuh. Rasa aman pun masih saya dapatkan ketika berjalan di tempat-tempat padat, terkadang teman-teman saya juga mengingatkan beberapa tempat yang rawan. Karena tumbuhnya kecurigaan satu sama lain inilah, yang membuat perasaan saya menjadi tidak aman. Tapi, hal tersebut tidak mengurungkan saya untuk menyukai kota ini.
Sebelumnya, tinggal di Kota Bandung hanya impian untuk saya. Disamping, rumor gang motor, kehidupan bebas dan sebagainya, saya masih sangat antusias tinggal disini. Adanya hal-hal negative itu akan berkembang sendirinya bagi orang-orang yang tidak bisa menjaga dirinya baik-baik. Karena pada dasarnya semua orang adalah baik adanya, hanya lingkungan sekitarlah yang membuat mereka berubah. Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berkunjung ke daerah Tasikmalaya. Disana masih dapat terlihat indahnya bumi sangkuriang ini. Walaupun lengkap dengan debu yang kian menusuk hidung. Tapi, setelah mulai memasuki desanya, rasanya seperti melihat kampung halaman lagi. Kehidupan masyarakat yang masih begitu kental rasa kekeluargaannya. Ketika, saya sampai di rumah sebuah keluarga, mereka dengan senang hati menyambut kami – saya dan teman-teman saya. Dengan segera mereka mengeluarkan makanan yang mereka punya, dari pisang yang langsung dipetik dari belakang rumah sampai ketan hitam yang mereka jadikan oleh-oleh untuk kami. Rasanya, seperti sudah lama mengenal dan keluarga dekat saja. Pertama kali, kami mengenal sang bapak yang bekerja di Simpang Dago, dan pindah ke Dipati Ukur, beliau yang bekerja keras untuk keempat anaknya. Dalam sela kesibukannya pun, beliau masih menyediakan waktunya untuk berbincang dengan kami tentang kehidupan di Bandung yang semakin sulit rasanya. Tapi, senyum dari wajahnya yang mulai menua tetap ada dan terukir jelas. Mungkin karena wajahnya yang ramah-tamah itulah, membuat kami terenyuh dan merasa dekat dengannya.
Seperti kehidupan semut saja, rasa kekeluargaan mereka begitu terasa. Mereka akan saling menyapa satu sama lain, ketika bertemu di tengah jalan, kenal ataupun tidak. Mereka pun akan saling membantu dalam susah maupun senang. Mungkin hal itulah yang membuat saya sadar, kita semua harus belajar dari sesuatu yang kecil dahulu untuk menjadi sesuatu yang besar.
No comments:
Post a Comment