2.23.2010

(not) Love at First Sight

Dengan perawakannya yang mungil disandingkan denganku memang terasa begitu ganjil. Kebersamaan yang biasanya terjadi, memang hanya sekedar teman semata. Tapi tidak begitu dalam 24/7 belakangan ini. Begitu istimewa dan berbeda. Belum waktunya saya bicara seperti ini? Mungkin. Karena masih terlalu dini untuk diceritakan dan diumbarkan. Tapi inilah salah satu bentuk kesenangan saya kepadanya - walaupun dia tidak akan pernah membacanya. Belum terasa memang gejolak masa muda seperti dahulu. hahahaha
Semuanya masih terasa di awang-awang. Masih terlalu abstrak untuk nya dan untuk saya. Banyak kemungkinan dan kesempatan untuk kita bersama, mungkin dengan berbagai perdebatan yang saya lakukan dengan nya, pertukaran pikiran yang selalu terjadi, pemaksaan dari nya dan dari saya, perhatian yang lebih dari nya dan dari saya? Kepada siapa? Kepada diantara kami. Saya dan Dia.
Tidak pernah terlintas akan bersamanya seperti ini sekarang. (tidak secara fisik)
Orang yang sangat berbeda dengan saya - bahkan mungkin 180derajat pun tidak dapat mewakili lagi.

1. Sangat pendiam, walaupun terkadang tidak begitu ketika bersama saya.
2. Tidak suka makan, hingga saya bingung apa yang harus saya suguhkan untuk menunjukkan perhatian ini.
3. Keluarga yang sempurna, padahal dia tahu kondisi saya yang sebenarnya tapi masih ingin bersama saya. Apa jadinya kalau Ibu nya tahu?
4. 10 menit terdiam akan tidur, selalu saya paksa untuk tetap membuka matanya.
5. Sangat Kontroversial, dengan orang2 yang tidak suka dan menjauhinya, tapi saya tetap netral dan mendampinginya - sejauh ini.
6. Sangat Rentan, terhadap dirinya - sakit.
7. Tidak mudah ditebak, dengan rencana jahil, kegirangan dan kemurkaannya yang dinikmati sendiri.
8. Sangat Tertutup, teman dekat bahkan keluarga sulit menembusnya.
9. Goyang-goyang, Mungkin seharusnya menjadi penari, duduk saja, kaki2nya tidak bisa diam.
10. Tidak suka nonton bioskop, jadi kami menghabiskan waktu dengan memutar DVD saja.

Pengalaman yang baru bagi saya, ketika Dia benar-benar orang yang berbeda.
Terima Kasih, Tuhan.

*saya menyesal hari ini, lupa menyimpan aqua botol pemberiannya~
(lupa!)

2.10.2010

Ayah dalam Belajar

Bagaimana ini bisa terjadi? Ketika semua orang berusaha untuk membenarkan berbagai macam pendapatnya di hadapan orang lain, Saya malah berlari. Saya tidak tahan dengan kebencian yang merajalela ini. Apalagi dengan beribu tundingan yang menuju ke arahnya. Tuhan, apakah ini? Sampai kapan ini akan berlanjut? Mungkin ini belum lama terjadi, Namun rasanya sudah beribu masa saya lalui. Hal yang paling menyesatkan dalam hidup ini, Ketika kita benar-benar berada di pojok ruangan yang berada di pojok. Diantara ratusan bahkan ribuan orang yang menghimpit. Suasana ini tidak pernah diimpikan oleh siapapun di dunia. Siapakah yang harus bertanggung jawab? Pertanggungjawaban macam apa yang harus dihadirkan? Bagaimana menanggulangi segalanya? Apa yang telah diraih selama ini hilang dalam satu masa, hilang dalam satu asa, raib ditelan bumi dan neraka. Ibu bilang ini anak nakal yang kembali berulah, Kenapa ini semakin rumit saja. Ketika semua kebohongan putih menjadi hitam. Dan semua menjadi jelas di depan mata. Siapakah yang selama ini ada dihadapan kami? Mengajar dengan begitu berkobar, Dengan auranya yang tak terelakkan. Dan sekarang berada di pojok ruangan tadi, Tak berkutik, Tak bersuara. Apa yang hendak dilakukannya sekarang? Ketika beribu peribahasa pun tidak dapat lagi menjawab kegalauannya. Inilah pelajaran yang sangat berharga di awal tahun ini. Bukan awal tahun yang baik, Untuk menjalani segalanya. Apakah ini yang disebut akhir dari dunia? Akhir dari segalanya. Ketika semua yang indah menjadi buruk, Ketika semua yang putih menjadi hitam, Ketika semua yang tertipu menjadi terbuka. Saya enggan membahasnya dengan bahasa yang tingkat tinggi, Saya enggan membuka aib dari Ayah saya ini. Ayah saya dalam belajar di lingkungan yang sangat nyaman dan aman. Ayah saya yang selalu mengajarkan saya untuk MEMBACA, MEMBACA dan MEMBACA.
Wahai Ayah dalam pembelajaran saya, Bagaimana ini? Apa yang telah engkau perbuat? Apa yang ada di pikiranmu ketika membuat ini semua? Mengapa tega sekali engkau berbuat seperti ini kepada kami. Kami tidak lebih dari anak-anak yang berguru kepadamu, Ayah. Kenakalan sebelumnya, Tidak menjadi pelajaran kah? Memang tidak ada hubungannya, Ayah. Tapi berbagai hal ini kau perbuat dengan sadar-sesadar-sadarnya. Mengapa ini bisa terjadi, Ayah? Mengapa?
Belajar lah kembali, Ayah.
Kutunggu kepulanganmu.